- Tentukan tujuan dan jangka waktu dana lebih dulu, baru pilih instrumen.
- Pisahkan dana darurat, lalu bagi sisanya ke kantong likuid, inti, dan alternatif.
- Jangan menaruh seluruh dana besar pada satu instrumen atau satu transaksi.
Dana besar yang menganggur di rekening punya dua risiko sekaligus: nilainya tergerus inflasi, dan keputusan menempatkannya sering tertunda karena pilihannya terlalu banyak. Angka Rp 1 miliar hanyalah contoh; kerangka di bawah berlaku untuk dana besar dengan nominal berapa pun.
Satu catatan di awal: artikel ini tidak merekomendasikan produk tertentu dan tidak bisa menggantikan perencana keuangan atau penasihat berizin yang mengenal kondisi Anda.
Langkah 1: tentukan tujuan dana
Dana ini untuk apa? Untuk dipakai dalam satu tahun, untuk pertumbuhan jangka panjang, atau sebagai cadangan? Tujuan menentukan horizon, dan horizon menentukan instrumen yang masuk akal. Dana yang akan dipakai dalam enam bulan tidak pantas ditempatkan di instrumen yang nilainya bisa turun tajam.
Langkah 2: pisahkan dana darurat
Sebelum menempatkan dana besar ke mana pun, pastikan dana darurat sudah terpisah dan mudah dicairkan. Bagian ini tidak dihitung sebagai dana investasi.
Langkah 3: bagi ke beberapa kantong
Alih-alih satu keputusan besar, banyak investor membagi dana berdasarkan fungsi:
- Kantong likuid untuk kebutuhan yang bisa muncul sewaktu-waktu.
- Kantong inti pada instrumen yang diatur dan relatif mudah dipahami, seperti deposito, reksadana, atau SBN.
- Kantong alternatif yang lebih kecil, untuk instrumen yang lebih spesifik dan kurang likuid.
Besarnya tiap kantong sangat bergantung pada profil Anda. Prinsip di balik pembagian ini dijelaskan di diversifikasi portofolio investasi alternatif.
Langkah 4: pahami cara kerja setiap instrumen
Untuk tiap kantong, tanyakan: dari mana imbal hasilnya berasal, apa yang bisa membuatnya gagal, dan kapan dana bisa dicairkan? Untuk kantong alternatif, pertanyaan tambahannya: bagaimana penyedia menyaring dan memverifikasi, dan apakah ada pelaporan sampai transaksi selesai?
Langkah 5: jangan tempatkan sekaligus pada satu transaksi
Dana besar sebaiknya tidak masuk seluruhnya ke satu proyek. Di Melton Bridge, nilai pendanaan per proyek tersedia hingga Rp 5 miliar, sehingga investor dapat membagi modal ke beberapa transaksi dengan milestone dan sektor yang berbeda. Cara kerja prosesnya ada di halaman Cara Kerja.
Kesalahan yang sering terjadi
- Mengejar angka imbal hasil tertinggi tanpa memahami risikonya.
- Mencampur dana darurat dengan dana investasi.
- Menunda terus karena menunggu waktu yang dianggap paling tepat.
- Menaruh seluruh dana pada satu instrumen karena merasa sudah paham.
Jika sebagian dana ingin Anda alokasikan ke instrumen berbasis transaksi, mulailah dengan membaca cara investasi bridge financing untuk pemula, lalu pertimbangkan mendaftar sebagai pemilik dana. Imbal hasil tidak dijamin dan modal dapat berkurang.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah dana besar sebaiknya ditempatkan di satu instrumen?
Umumnya tidak. Membagi dana ke beberapa kantong berdasarkan fungsi dan jangka waktu membantu mengendalikan risiko, tetapi pembagian yang tepat bergantung pada kondisi pribadi Anda.
Perlukah dana darurat dipisahkan sebelum berinvestasi?
Ya. Dana darurat sebaiknya terpisah dan mudah dicairkan, sehingga Anda tidak terpaksa mencairkan investasi pada saat yang kurang tepat.
Bagaimana jika sebagian dana ingin masuk ke bridge financing?
Tempatkan hanya porsi yang tidak Anda butuhkan selama jangka waktu transaksi, dan bagi ke beberapa proyek. Nilai per proyek di Melton Bridge tersedia hingga Rp 5 miliar.
Siap menyalurkan modal?
Daftar sebagai pemilik dana, tentukan mandat Anda, dan tinjau paket uji tuntas transaksi jembatan yang sudah tersaring sebelum berkomitmen.
Konten edukasi, bukan nasihat keuangan. Imbal hasil tidak dijamin dan modal dapat berkurang.
